Lahan Tidur, Agribisnis dan Industri Kreatif Konseptual Sumedang Pasti Hurip

Selasa, 01 Januari 2013

Mengembangkan Lahan Tidur merupakan salah satu konseptual Sumedang Pasti Hurip, Untuk Four Helix (Pemerintah, Bisnisman, Intelelektual, warga masyarakat) ditambah konsep Desa Inovatif, PNPM Mandiri, Perkotaan dan Perdesaan yang sudah berjalan.

Konsep apa untuk memajukan sector pertanian agar Sumedang hurip. Menurut Didi Ahmadi Djamhir, konsep hurip salah satunya masyarakat harus kaya. Dalam artian agrobisnis harus diterapkan. “Agrobisnis kita itu dari zaman Belanda. Pada tahun 1914 kenapa di Sumedang dibangun Lanbau,  karena di Sumedang merupakan daerah pertanian.

Kemudiaan, 1922 kenapa dibangun Lingga, itu Adhipura untuk pembangunan Sumedang. Yang disebut masyarakat Madhani itu sebenarnya sudah ada di Sumedang, saya mau berbagai karena saya telah berpengalaman membangun daerah lain. Seperti Tanggerang, dan Cimahi yang baru-baru, tapi saya sedih kenapa Sumedang yang sudah 434 tahun kalah oleh Cimahi yang baru 10 tahun,” tutur Didi Ahmadi Djamhir

Didi menyebutkan, ia akan fokus membangun agribisnis, memberdayakan lahan tidur, penataan kota untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, dan semakin mengembangkan ekonomi kreatif.

"Saya bukan orang partai, saya teknokrat yang tertarik maju jadi Cabup Sumedang karena selama bekerja sebagai birokrat di Kota Cimahi, kita bisa membangkitkan potensi warga. Contohnya, Cimahi saat pisah dari Kabupaten Bandung diberi Rp 7,5 miliar. Tapi sekarang PAD-nya bisa sama dengan Sumedang," kata Didi Ahmadi Djamhir.

Menurut saya, lahan tidur di Sumedang sebagai potensi besar jika ditata dan dikembangkan dengan baik. Kalau tanah hanya dibiarkan nilainya cuma segitu, dengan dikavling-kavling dan dikelola, bisa menghasilkan 12 kali. Menurutnya, pemimpin di Sumedang harus menyediakan sarana yang tidak mengganggu jalan negara yang sekarang.




"Agribisnis di Sumedang masih sangat bisa dikembangkan. Selain perkebunan teh, karet, mangga gedong, dan lain-lain. Ekonomi kreatif bukan hanya Cipacing, tapi misalnya angklung di Saung Udjo itu dipasok oleh Sumedang," kata Didi Ahmadi Djamhir.
SHARE THIS :

0 komentar:

Posting Komentar