Kamis, 03 Januari 2013

Lima Titik Interchange Cisumdawu Bagi Pemasaran Perdagangan dan Industri Kreatif

Pemkab Sumedang yakin pembangunan jalan tol Cisumdawu tak akan berdampak buruk bagi daerah. Untuk menghindari dampak buruk jalan tol yang membelah Sumedang ini beberapa strategi mulai disusun Pemkab Sumedang.

"Ya, kami belajar dari beberapa pembangunan jalan tol di daerah lain dan kami tidak ingin pembangunan jalan itu menjadi dampak buruk bagi masyarakat Sumedang," kata Didi Ahmadi Djamhir

Menurutnya, saat ini Sumedang bukan lagi menjadi daerah lintasan, tapi sudah menjadi daerah tujuan dari kawasan barat menuju timur, maupun sebaliknya. Dikatakannya, regulasi untuk menjadi daerah tujuan sudah ditetapkan.

Untuk menjadikan Sumedang sebagai daerah tujuan maka ekonomi kreatif sedang ditumbuhkan dan menggenjot sektor pariwisata. "Nantinya perusahaan daerah  yang akan menjabarkan lebih konkretnya," kata Didi Ahmadi.

Menurutnya, kondisi ke depan juga akan terjadi kejenuhan di Bandung sehingga wisatawan diharapkan memilih alternatif lain. "Bandung sudah jenuh dan diharapkan nanti mereka memilih Sumedang karena waktu dan jarak tempuh menjadi lebih pendek dengan adanya jalan tol,"  katanya.

Supaya menjadi daerah tujuan dengan menjadikan daerah wisata dan banyak ekonomi kreatif, maka harus banyak akses masuk dari tol ke Sumedang.

Pintu masuk keluar pertama ada di daerah Citali, Kecamatan Pamulihan. Kemudian di Sumedang kota, Cimalaka, Paseh, dan Ujungjaya.

Banyaknya interchange merupakan jawaban terhadap kekhawatiran para pengusaha jasa dan produk yang memampaatkan jalan raya Bandung-Sumedang-Cirebon.

Ada interchange di Citali, Sumedang dan Cimalaka yang berdekatan dengan pusat kota, supaya menguntungkan secara ekonomi bagi Sumedang. Satunya lagi berada di Cimalaka yang hanya berjarak tiga kilometer dari pintu masuk di pusat kota.
 
Pintu masuk dan keluar tol itu dibangun juga di Kecamatan Paseh. Paseh sebagai gerbang masuk ke kawasan wisata alam Gunung Tampomas di Buahdua dan Conggeang.

Begitu juga dengan pintu masuk dan keluar  pertama di kawasan Tanjungsari, di Citali dibangun karena kawasan itu dijadikan sebagai pusat perumahan dan permukiman. Selain itu juga tempat tersebut sebagai sentra sayuran dan juga pusat kerajinan (Handy craft)

Pembangunan tahap I Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) ditargetkan selesai pada 2014.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Prof.Ir.Deny DJuanda Puradimadja, M.sc mengatakan, Pembebasan lahan untuk Tol Cisumdawu itu sudah di atas 90 persen.

Tahap I Tol Cisumdawu terbentang dari Cileunyi ke Tanjungsari. "Prioritasnya setelah tahap I selesai dilanjutkan ke tahap II, yakni Tanjungsari-Sumedang. Kami ingin lalu lintas Cadas pangeran itu lebih terkendali," kata Prof.Ir.Deny DJuanda Puradimadja, M.sc di sela-sela acara Forum BUMD di Savoy Homann (11/12).

Menurut Deny, Tol Cisumdawu bukan sekadar membantu masyarakat yang akan bepergian dari Bandung ke Cirebon atau sebaliknya, tapi juga sarana menuju Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka. Apalagi, kata dia, BIJB bukan sekadar bandara tapi juga terintegrasi dengan kawasan industri dan perdagangan.

Jika BIJB Kertajati sudah beroperasi, diharapkan industri yang semula berada di Bandung bisa ekspansi ke Kertajati. "Namun ekspansi bukan berarti industri di Bandung ditutup," kata Prof. Ir Deny Djuanda Puradimaja, Msc

Adanya  Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sudah barang sangat berkaitan erat dengan  sinkronisasi kebijakan pemkab sumedang dimana kawasan Ujung Jaya dan Tomo berdasarkan RUTR Kab. Sumedang dijadikan sebagai pusat kegiatan industri.

Terkait pembangunan tahap I Tol Cisumdawu, Prof. Ir. Deny mengatakan memakan anggaran sebesar Rp 1,02 triliun. Anggaran tersebut berasal dari APBN, di mana 90 persen dari pemerintah dan 10 persennya pinjaman dari RRC.

Jika tahap I ditargetkan selesai pada 2014, lima tahap pembangunan sisanya diharapkan segera terealisasi. Pembebasan lahan untuk tahap II sampai VI ditargetkan bisa selesai dalam kurun dua tahun sehingga pembangunan tol pun bisa dimulai dan selesai cepat.

Sebagaimana diberitakan, pembangunan tol Cisumdawu yang sudah tahap I pengerjaannya sudah mulai dilakukan November lalu membuat waswas para pengusaha, terutama pemilik rumah makan di sepanjang jalur Bandung-Sumedang. Karena jalur tersebut kemungkinan besar akan mati setelah para pengguna kendaraan lebih memilih jalan tol. Para pengusaha pun sempat stres mencari cara agar bisa bertahan dalam usaha mereka. Mereka berharap pemerintah bisa mencarikan solusi yang terbaik.

Hasil inventarisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumedang, jumlah rumah makan yang ada di sepanjang jalan mulai Sumedang kota sampai Jatinangor ada 167 warung makan.

"Itu data dua tahun lalu, mungkin saja sekarang sudah bertambah lagi. Bahkan di atas jalan Cadas Pangeran sekarang tumbuh warung makan juga," kata Thomas Darmawan.

Thomas mengatakan, warung makan memang yang akan mengalami dampak langsung dari mulai beroperasinya jalan tol. Menurut Thomas, hasil inventarisasi Kadin, omzet pedagang itu sekitar Rp 2 juta-Rp 3,5 juta per bulan untuk hari-hari biasa. "Kalau liburan atau akhir pekan paling naik mencapai Rp 4,5 jutaan sebulan," katanya.

Disebutkan, selain rumah makan di sepanjang jalan itu juga ada penjual makanan khas Sumedang seperti tahu dan ubi Cilembu. "Tapi kalau untuk makanan khas itu tidak akan mengalami penurunan karena masih tetap dicari. Kalau orang ingin tahu Sumedang ya pasti masuk ke Sumedang apalagi kalau sudah punya gerai langganan," katanya.



Artikel Terkait :


Share Artikel ini :

0 komentar:

Poskan Komentar